Tidak terasa, sudah 33 bulan lebih saya jadi bunda. Dikaruniai anak di usia awal 20-an membuat saya merasa ”diragukan”. Sejak awal kehamilan, sedikitpun saya tidak pernah terpikir untuk tidak menyusui, alasannya?, oh jangan harap keluar alasan ilmiah dan kesehatan dan ini dan itu, alasan saya simpel, karena 2 hal.
- karena setahu saya setiap bayi ya netek
- karena murah
Dan saya juga tidak ada persiapan yang aneh-aneh, cuma mengoleskan nipple cream mothercare sejak kehamilan saya memasuki bulan ke 7.
Alhamdulillah, saya tidak mengalami kesulitan berarti, pokoknya saya menyusui lancar jaya (menurut saya loh ya) selain masalah diawal menyusui yang membuat saya mencampur antara asi dengan formula.
Beberapa bulan sebelum ulang tahun Zua yang ke-2 saya sudah sounding bahwa “anak besar nggak nenen” dengan berbagai contoh, misalnya anak tetangga yang sudah tidak menyusu lagi. Harapan saya, pada usia 2 tahun Zua akan self-weaning dan kami akan bersama-sama melaluinya, tapi ternyata tidak semudah yang saya bayangkan!
Saya sudah memadukan teknik weaning with love dan metode hypno parenting (istilahnya afirmasi kalau tidak salah) yaitu mengafirmasi dengan kata-kata positif ketika anak dalam keadaan setengah tertidur. Afirmasi menabukan kata-kata “tidak” dan “jangan”, jadi kata-kata “zua anak besar anak pintar yang minum susu dari gelas” saya ulangi setiap malam, semakin rajin saya afirmasi, semakin lengket Zua dengan menyusu-nya.
Beberapa kali saya maju mundur untuk menyapih Zua, alasan utamanya selalu kasihan. Berkali-kali saya konsultasi dengan sahabat-sahabat saya yang konselor laktasi dan penggiat AIMI, selalu sama sarannya “kamu kali yang belom ikhlas.. makanya itu hati diikhlasin dulu”.. Saya merenung.. Iya, benar.. Saya terlanjut menikmati saat-saat zua menyusu, menatap saya, tangannya memeluk saya, harum tubuhnya menempel di tubuh saya.. Belum lagi “keajaiban” ASI yang selalu jadi andalan dikala zua sakit
Seminggu yang lalu, saya tiba-tiba merasa “ah saya Siap”, dan saya diskusikan dengan suami, alhamdulillah, dia Siap, masalah kami adalah, bahwa Zua sebetulnya sama sekali tidak mau. Memang dia sudah bisa beberapa kali tidur tanpa harus nenen terlebih dahulu, tapi kebanyakan harus nenen dulu, sementara bangun tidur mutlak harus nenen.
Hari pertama weaning, masalahnya adalah Zua menangis sekuat-kuatnya pada saat bangun tidur, dan ayahnya terpancing emosi, zua dimarahin, lagi-lagi mencari nenen untuk ketenangan. Sayapun segera berkonsultasi dengan uni Sari, konselor laktasi idola saya, dan berhasil saya tarik benang merah. Malamnya saya diskusi dengan suami yang juga merasa bersalah, okay, kami sudah memutuskan akan menekan emosi karena kami berdua tahu, ini saat yang sulit buat Zua.
Tidur siang dan bangun tidur tanpa nenen berhasil saya lewati dengan aktifitas baca cerita, dan ngemil langsung setelah bangun tidur. Yogurt, keju, dan agar-agar adalah sogokan yang tidak pernah gagal. Tidur malam, zua akan dipijat oleh ayahnya sambil diceritai, saya menunggu diluar kamar sampai zua tertidur, di hari ke-5, Zua sudah “jinak” dan bisa saya teman tanpa memaksa meminta nenen. Ketika zua terbangun malam ayahnya akan mengambilkan antara air putih atau susu untuknya, memangkunya sambil meminumkannya, saat ini biasanya saya tak kuasa menahan air mata, betapa besar perjuangan kami bertiga. Bangun tidur pagi menjadi saat terpenting bagi kami. Ayah Zua sudah harus mandi jam 7 dan berangkat jam 7.45, sementara Zua akan nenen dulu dan bangun jam 7.30, Sekarang zua bangun jam 7, langsung saya ganti baju, kami jalan pagi di jogging track, kadang bawa bola dan main di lapangan tenis, pokoknya langsung dialihkan. Alhamdulillah di hari ke 7 sudah bisa bangun dan malas-malasan dulu, baru kemudian jogging. Godaan terbesar kami adalah Zua sakit!! Badannya demam 38.5 derajat Celsius, dan saya gatal ingin menyusui, suami menguatkan saya, berdua, kami hadapi, alhamdulillah, saya Cuma memberi zua 1 SDM asi perah, panasnya Turun, saya shalat dan memohon untuk diberi kemudahan dalam menyapih Zua, alhamdulillah, sakitnya berangsur-angsur hilang walau saya tidak menyusuinya
Hari ini, saya sudah mendeclare bahwa anak saya, Damar Hakim Lazuardi Rahman, 33 bulan, adalah sarjana ASI se-sarjana-sarjananya hehehe..
Hal-hal indah setelah kami resmi “berpisah” dengan nenen datang susul menyusul, dimulai dari porsi makan zua yang 2x lipat dari sebelumnya, lalu porsi cemilannya yang bertambah, Sekarang porsi air putih yang diminumnya juga bertambah.
Zua makin mandiri, dan saya merasa lebih disayang dan dihargai olehnya. Beberapa kali sehari Zua memeluk saya dan berkata “bunda, aku sayang loh sama bunda” atau tiba-tiba waktu saya memasak dia memanggil ”bunda, bunda,sini bentar,mas ua mau peluk”. Kami bertiga, saya, suami saya dan Zua makin dekat, makin bisa mengontrol emosi kami. Minggu-minggu terakhir ini mendekatkan kami secara emocional, dan memperkuat bonding.
Saya bangga, bahagia, dan merasa diberkahi sekaligus. Jadi mama, jangan takut untuk menyusui, jangan takut merasa tidak Siap menyapih, jadikan pengalaman masa menyusui kita menjadi pengalaman terindah!